Tanaman Mete, Harapan Ditanah Yang Kering

tanaman meteKARAKTERISTIK tanah dan iklim di sebagian wilayah Wonogiri mempunyai kekhasan tersendiri. Hanya sedikit tanaman mampu tumbuh bagus pada lapisan tanah yang didominasi kars dan kapur itu.

Salah satu tanaman yang mampu bertahan hidup di sana adalah mete. Tanaman mete jamak dijumpai di kabupaten tersebut. Bahkan di daerah rawan kekeringan sekalipun, mete mampu tumbuh subur.

Ya, itulah kelebihan tanaman mete yang justru berproduksi dengan sangat baik saat musim kemarau.

Alhasil, Wonogiri menjadi salah satu daerah penghasil mete terbesar di Jateng. Produksi kacang mete di kabupaten tersebut bisa mencapai 7.145 ton per tahun. Produk yang diolah menjadi camilan gurih nan lezat itu dikirim ke berbagai daerah di nusantara. Bahkan, produk-produk turunannya telah diekspor ke beberapa negara.

Harganya pun tergolong tinggi, yakni bisa mencapai Rp 60.000 per kilogram untuk mete kupas kering (oshe) dan Rp 65.000 per kilogram untuk mete goreng. Bahkan, menjelang Lebaran lalu, harga kacang mete membumbung tinggi hingga Rp 100.000 per kilogram. Dan, mete pun menjadi makanan camilan paling mahal saat itu.

Apakah harga selangit itu memberi keuntungan besar untuk petani? Belum tentu.

Sularti (55), petani sekaligus pedagang mete Rejosari, Kecamatan Jatisrono, Wonogiri mengatakan, harga mete kala itu melangit karena para petani gagal panen. Kegagalan tersebut disebabkan hujan yang turun sepanjang tahun 2010. Perlu diingat, bunga tanaman mete sangat mudah rontok jika terkena hujan.

Akibatnya, mereka terpaksa mendatangkan mete dari luar daerah. Seperti Sumbawa dan Kalimantan. Bahkan, beberapa pedagang terpaksa membeli mete impor dari Vietnam untuk mencukupi permintaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>